Total Pageviews

Friday, October 7, 2011

Analisis Potensi Industri Berbasis Pertanian di Propinsi Jawa Timur

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang penting dalam
perekonomian Indonesia. Sektor ini juga memiliki keterkaitan kuat terhadap
sektor ekonomi lainnya. Pengembangan agroindustri yang memiliki keterkaitan
kuat terhadap sektor pertanian sangat diperlukan. Pengembangan agroindustri
diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja dan
mampu meningkatkan nilai tambah bagi sektor pertanian itu sendiri.
Jawa Timur sebagai kawasan industri besar dan masih menempatkan sektor
pertanian sebagai pembentuk utama PDRB, sangat sesuai jika sektor agroindustri
dikembangkan untuk memperkuat ekonominya. Meskipun dengan kondisi sektor
pertanian dan industri ditambah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebagai
tulang punggung pembangunan Jawa Timur tetapi terdapat jurang pemisah yang
besar antar sektor tersebut, terutama antara sektor pertanian dengan industri.
Perbedaan itu salah satunya terletak pada sumbangan sektor industri yang besar
terhadap PDRB tetapi sedikit sekali dalam penyerapan tenaga kerja, sedangkan di
sektor pertanian sumbangan PDRB masih rendah jika dibandingkan sektor
industri, tetapi penyerapan tenaga kerjanya begitu besar. Pengembangan
agroindustri diharapkan pula memperpendek jarak antar sektor. Dalam
pengembangan industrialisasi pertanian hendaknya juga memperhatikan
keterkaitan antar sektor ekonomi dan kunci pembangunan, mengetahui sektor
basis ekonomi dan pergeseran pertumbuhan antar daerah dengan tingkat propinsi
dan informasi yang tepat mengenai potensi daerah sangat diperlukan. Dengan
analisis input output, teknik Location Quotient, Shift Share dan pemetaan wilayah
dengan Sistem Informasi Geografi sebagai penyimpan dan penyajian data, dapat
memberikan alternatif pilihan kebijakan dalam pengembangan agroindustri di
Jawa Timur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kerterkaitan sektoral,
mengetahui agroindustri yang menjadi basis masing-masing kabupaten/kota,
mengetahui perubahan struktur ekonomi dan pergeserannya antar daerah dan
memberikan data spasial agroindustri di masing-masing daerah tersebut.
Data yang diperoleh merupakan data sekunder yang diperoleh dari data
tertulis Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian, dan Dinas Perindustrian,
Perdagangan dan Koperasi Propinsi Jawa Timur. Data yang diperoleh dianalisis
secara deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Untuk mengetahui keterkaitan sektoral, baik keterkaitan ke depan (forward
linkage) maupun ke belakang (backward linkage) digunakan analisis data input
output. Kemudian untuk mengetahui sektor basis agroindustri digunakan teknik
Location Quotient (LQ), dan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi daerah dan
pergeserannya digunakan analisis shift and share (SS). Analisis spasial
menggunakan Sistem Informasi Geografi, dan pemetaan dibagi menjadi lima kategori yaitu pemetaan sektor dalam agroindustri dengan analisis LQ dan SS
berdasarkan nilai PDRB, pemetaan sektor pertanian dengan LQ berdasarkan
jumlah produksi, dan pemetaan sektor industri kecil, menengah dan industri besar
dengan LQ berdasarkan jumlah tenaga kerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 aktivitas produksi
agroindustri yang mampu menjadi kunci pembangunan (unggulan), 16 aktivitas
potensial serta 10 aktivitas produksi yang masih tertinggal. Dalam penentuan
subsektor yang menjadi kunci pembangunan peneliti memetakan aktivitasaktivitas
produksi ke dalam 4 kuadran keterkaitan sektoral. Dan aktivitas
produksi yang mampu menjadi kunci pembangunan tersebut dengan nilai
Backward Linkage dan Forward Linkage-nya adalah sayuran dan buah-buahan
(BL : 1,0893; FL :1,2473), kelapa sawit (BL : 1,4497; FL : 1,8095), tanaman
perkebunan lainnya (BL : 1,2397; FL : 1,0276), peternakan (BL : 1,0115; FL :
1,2585), pemotongan hewan (BL : 1,4392; FL : 1,3596); industri lemak dan
minyak (BL : 1,2501; FL :1,3812), industri penggilingan padi (BL : 1,2436; FL :
1,5087), industri tepung segala jenis (BL : 1,3094; FL : 1,2025), industri makanan
lainnya (BL : 1,3094; FL : 1,2025), industri minuman (BL : 1,4138; FL : 1,3739),
industri barang dari kertas dan karton (BL : 1,2200; FL : 1,1216), industri barang
dari karet dan plastik (BL : 1,4107; FL : 1,0817).
Dari analisis Location Quotient dan pemetaannya didapatkan bahwa
subsektor tanaman pangan yang berpotensi sangat baik terdapat di kabupaten
Bondowoso dan Lamongan. Tanaman perkebunan berada di kabupaten
Bondowoso dan Sumenep. Subsektor peternakan di kabupaten Blitar, kehutanan
berada di kabupaten Madiun dan Bojonegoro. Dan subsektor perikanan di
kabupaten Sumenep. Sektor industri pengolahan yang terdiri dari subsektor
industri makanan, minuman dan tembakau yang berpotensi sangat baik di kota
Kediri. Subsektor industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki berada di kota
Probolinggo dan kabupaten Gresik. Industri barang dari kayu dan hasil hutan
berada di kabupaten Gresik. Industri kertas dan cetakan berada di kabupaten
Sidoarjo. Industri pupuk, kimia dan barang dari karet berada di kabupaten Gresik.
Industri logam dasar, besi dan baja di kota Surabaya. Industri angkutan, mesin dan
peralatannya di kota Madiun dan terakhir subsektor industri logam lainnya berada
di kota Mojokerto.
Analisis Shift and Share dan pemetaannya menempatkan potensi sangat baik
subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan di kabupaten Sumenep.
Peternakan berada di kabupaten Blitar, kehutanan di kabupaten Ngawi dan
Bojonegoro. Subsektor perikanan di kabupaten Sumenep. Sektor industri yang
berpotensi sangat baik untuk subsektor industri makanan, minuman dan tembakau
berada di kota Kediri. Industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki berada di
kota Probolinggo. Industri barang dari kayu dan hasil hutan di kabupaten Gresik.
Industri kertas dan cetakan berada di kabupaten Kediri. Industri pupuk, kimia dan
barang dari karet di kabupaten Gresik. Industri logam dasar, besi dan baja di kota
Surabaya dan kabupaten Sidoarjo. Industri angkutan, mesin dan peralatannya di
kota Madiun dan subsektor industri logam lainnya berada di kota Mojokerto.
Dari data produksi pertanian didapatkan potensi sangat baik untuk aktivitas
produksi tanaman padi di kabupaten Lamongan, tanaman kacang-kacangan di kabupaten Sampang. Tanaman jagung di kabupaten Tuban dan tanaman umbiumbian
di kabupaten Pacitan. Potensi tanaman sayuran dan buah-buahan di kota
Batu, serta tanaman pangan lainnya di kabupaten Sampang. Untuk tanaman
perkebunan yang dimulai dengan tanaman karet berada di kabupaten Madiun.
Tanaman tebu di kabupaten Sidoarjo, tanaman kelapa di kota dan kabupaten
Probolinggo. Tanaman tembakau di kabupaten Pamekasan. Tanaman kopi di
kabupaten Nganjuk. Tanaman teh di kabupaten Ngawi dan tanaman cengkeh di
kabupaten Pacitan. Tanaman pala dan lada serta tanaman perkebunan lainnya di
kabupaten Sumenep. Tanaman lainnya di kabupaten Madiun dan kota
Probolinggo. Produksi peternakan di kabupaten Trenggalek, Situbondo,
Pamekasan dan Sumenep. Pemotongan hewan di kabupaten Gresik. Produksi
unggas di kabupaten Blitar, kota Blitar dan kota Kediri. Potensi hasil hutan kayu
di kabupaten Banyuwangi, dan hasil hutan lainnya di kabupaten Sumenep. Potensi
perikanan berada di wilayah kabupaten Gresik dan kota Probolinggo.
Pemetaan terhadap subsektor industri kecil dan menengah (IKM) didapatkan
potensi IKM pengolahan dan pengawetan makanan berada di kabupaten
Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Sumenep, kota Kediri, kota Probolinggo, kota
Surabaya dan kota Batu. IKM minyak dan lemak di kabupaten Ponorogo, Blitar
dan Lamongan. IKM penggilingan padi di kota Madiun, IKM tepung segala jenis
di kabupaten Bangkalan. IKM gula di kabupaten Blitar. IKM minuman di
kabupaten Banyuwangi dan kota Batu. IKM rokok di kabupaten Malang dan
Bojonegoro. IKM pemintalan di kota Mojokerto, IKM tekstil, pakaian jadi dan
kulit di Tulungagung, IKM kayu bambu dan rotan di kabupaten Gresik. IKM
barang dari kertas dan karton di kabupaten Madiun dan Jombang. IKM barang
dari karet dan plastik di kabupaten Ngawi. IKM pupuk dan pestisida di kabupaten
Lamongan. Dan untuk IKM barang dari logam berada di kota Pasuruan.
Industri Besar (IB) yang berpotensi sangat baik di Jawa Timur, untuk sektor
industri besar pengolahan dan pengawetan makanan berada di kabupaten
Situbondo. Industri Besar minyak dan lemak di kabupaten Ponorogo. Industri
besar tepung segala jenis di kabupaten Malang. Industri besar gula di wilayah kota
Madiun. Industri besar minuman di kabupaten Banyuwangi, Sidoarjo dan Madiun.
Industri besar rokok di kabupaten Jember, Bojonegoro, kota Malang dan kota
Kediri. Aktivitas industri besar pemintalan di kabupaten Gresik, industri besar
tekstil, pakaian jadi dan kulit di kabupaten Ponorogo dan Gresik, industri besar
kayu bambu dan rotan di kabupaten Gresik dan kota Probolinggo. Industri besar
barang dari kertas dan karton di kabupaten Nganjuk dan Tuban. Industri besar
barang dari karet dan plastik di kabupaten Pacitan. Industri besar pupuk dan
pestisida di kabupaten Banyuwangi. Dan terakhir industri besar barang dari logam
berada di kota Pasuruan dan kota Surabaya.
Pemetaan potensi tenaga kerja berdasarkan persentase penduduk Jawa Timur
yang berusia 10 tahun ke atas dan bekerja pada sektor pertanian tertinggi berada di
kabupaten Pacitan, kabupaten Ngawi, kabupaten Sampang, kabupaten Pamekasan
dan kabupaten Sumenep. Sedangkan pemetaan yang sama terhadap penyerapan
tenaga kerja di sektor industri pengolahan berada di kabupaten Sidoarjo dan
kabupaten Gresik.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment